Jumat, 16 Januari 2015

Sebuah Kisah






Wanita yang aneh ketika aku melihatmu di sebuah telaga kau begitu indah, namun kau indah sekali jika engkau tersenyum dengan dibalikmu adalah sebuah telaga. 

Aku sebenarnya mau menutup mataku dn ku paksakan kaki ini untuk melangkah meningglakanmu tapi, badanku di hancurkan oleh hati kecil ku, aku tak tau mau kemana hati yang bimbang ini. 

Ku tanya sang surya “ wahai matahari mengapa diriku coba kau jawab dengan segala kekuatan sinar mu”dia tak bisa menjawab ku tanya para batu yang ku injak.

“wahai batu kau yang di sentuh oleh semua manusia tolong kau jawab dengan firasatmu “dia tak menjawab, ku tanya tanaman yang 
“ wahai para tanaman kau berikan kehidupan penting pda mansia tolong jawab pertanyaanku” dia tak bisa bertanya karena aku sudah tahu bahwa yang ku Tanya tak bisa bicara” aku dasar bodoh dan mati akal” kini hati kecil yang berbicara. Setelah itu kini aku bertannya kepada tuhan dan yakin tuhan menunjukan  jawaban yang sesungguhnya. Ketika rasa seku mata kita , itu tak lahir jika ia tidak di dasari dengan rasa suka yang ada pada hati kita. Aku kemuadia kembali memandang gadis itu ternyata gadis itu bersama dengan seorang pria yang sedang menggandang dan memainkan drama yang mesra sungguh membuat badan ini tegang termasuk masa depan ku. Aku tak tau kenapa hati ini mengarah ke gadis itu. Kemuadian semuanya berubah pria itu melukai wanita dengan mencoba untuk menhujat kewibawaan sang wanita. Aku punya sekarang bukan punya jiwa pahlawan yang mecoba menolong dengan mengharap sebuah pujian tapi aku ingin sekarang berjiwa kemanusiaan tanpa meminta harapan satu pun aku mencoba menereapkan dari dalam hatiku. Ketika waktu diri ku menghampiri dan bersiap untul menggepalka tanganku dan melahirkan emosiku, aku tak tau lagi  apa kah aku dosa atau tidak? Tapi aku terus mencoba untuk mengajar si pria itu , Alhamdulillah pria itu mati di tempat dan tangan ini sangat luar biasa telah membunuh satu manusia yang mungkin di mata tanganku pria itu salah.kini aku hanya bersiap-siap untuk mempertanggungjawabkan tangan yang sungguh penuh darah.


 Wanita itu terkujur dan menangis meratapi kecerobohannya,mungkin dia merasa bodoh dan hancur dari kerasnya kehidupan. Aku kemudian mengambil tangannya dan memberikan jaketku karena dia tak telanjang setengah badan. Aku mengajak tinggal di rumahku dan berusaha untuk merawatnya hingga dia mau pulang ke alam yang aslinya.
delapan bulan kemudian.
sebuah badan yang kecil di bagian perut membes sekarang aku tak tau mau melakukan apa.